Kamis, 28 Juli 2016

Kemana Kaki Melangkah

Bismillah

Benih yang Buruk dan Benih yang Baik
                Benih yang buruk akan mengering dan layu, sementara benih yang baik akan berbuah.
Benih yang buruk akan tumbuh tinggi ke angkasa dengan cepat namun akarnya di tanah terlalu dangkal, walaupun dengan ketinggiannya ia bisa menutupi pohon yang baik dari cahaya matahari dan udara. Namun pohon yang baik akan terus tumbuh dengan lambat, karena kedalaman akarnya di tanah mampu memberinya kehangantan dan udara yang dibutuhkannya.
                Ketika kita melewatkan sosok yang menipu dari pohon yang buruk, dan mencoba melihat kekuatannya yang hakiki serta ketahanannya, maka ia akan terlihat lemah dan lunglai tanpa memiliki kekuatan yang sesungguhnya. Sementara pohon yang baik mempu bertahan melewati cobaan, menghadapi badai, dan tetap tumbuh dengan lambat dan tenang, dan tidak terpengaruh oleh gangguan yang diberikan oleh pohon yang buruk, baik itu berupa debu, duri maupun yang lainnya.


Renungan tentang Kematian
                Dari waktu ke waktu kematian terus berjalan. Terkadang ia menggigit dengan satu gigitan dan kemudian meneruskan perjalanan, atau turun sejenak untuk mengumpulkan beberapa hidangan yang jatuh dari meja kehidupan. Sementara itu kehidupan juga berlalu, hidup dan mencurah deras seolah tak merasakan atau melihat wujud dari kematian tersebut.
                Suatu waktu anda mungkin akan menjerit kesakitan, ketika kematian menggigit sebagian dari tubuh anda. Namun luka itu akan segera sembuh, dan teriakan kesakitan juga akan segera berubah menjadi keriangan. Dan manusia beserta binatang, burung-burung, ikan, ulat, serangga, rumput, dan pohon-pohon akan kembali meramaikan permukaan bumi dengan kehidupan dan makhluk hidup. Sementara itu kematian tetap mengintai di suatu tempat untuk menggigit dan kemudian berlalu.
                Matahari terbit, lalu terbenam, sementara bumi terus berputar dan kehidupan muncul dari segala arah. Segala sesuatunya tetap tumbuh. Tumbuh dari segi kuantitas dan kualitas. Jika kematian bisa melakukan sesuatu niscaya ia akan menghentikan kehidupan, namun kematian tidak menghentikan kehidupan, karena kematian tetap berjalan di jalannya sementara kehidupan tetap berlalu di jalannya.


Tawadhu’/ Rendah Hati
                Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”. [HR. Muslim 4/2001]
                “Tawadhu’ atau rendah hati sangat penting dalam hubungan anda dengan orang lain. Orang yang sombong – seberapa hebat pun ia mempelajari seni berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain- ia tidak akan pernah berhasil mewujudkan sebuah hubungan yang hakiki, karena kesombongannya akan tetap menjadi penghalang antara dirinya dengan orang lain. Kesombongan bagaikan dinding penghalang yang menghalangi pelakunya dari berhubungan dengan dunia luar. Dan ia juga akan menghalanginya untuk dapat mencapai Surga dan memasukinya :
                Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang yang di hatinya terdapat sebesar biji zarrah dari kesombongan”. [HR. Muslim 1/93].
                Saudaraku, renungkanlah tentang orang yang telah kehilangan hubungan dengan Surga dan juga dengan orang lain, bagaimanakah nilai hidupnya di dalam kehidupan dunia ini? Jawabannya adalah tidak ada sama sekali.
                Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita contoh terbaik dalam hal tawadhu’. Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Bahwasannya seorang budak wanita dari budak-budak yang ada di Madinah dapat memegang tangan beliau dan membawanya kemanapun yang dikehendakinya”. [HR. Al-Bukhari 5/2255]

Sumber : Buku "Kemana Kaki Melangkah karya Hamad Shalih Asy Syatiwi

Alhamdulillah...