Benih yang Buruk dan
Benih yang Baik
Benih yang buruk akan
mengering dan layu, sementara benih yang baik akan berbuah.
Benih yang buruk akan tumbuh tinggi ke angkasa dengan cepat
namun akarnya di tanah terlalu dangkal, walaupun dengan ketinggiannya ia bisa
menutupi pohon yang baik dari cahaya matahari dan udara. Namun pohon yang baik
akan terus tumbuh dengan lambat, karena kedalaman akarnya di tanah mampu
memberinya kehangantan dan udara yang dibutuhkannya.
Ketika
kita melewatkan sosok yang menipu dari pohon yang buruk, dan mencoba melihat
kekuatannya yang hakiki serta ketahanannya, maka ia akan terlihat lemah dan
lunglai tanpa memiliki kekuatan yang sesungguhnya. Sementara pohon yang baik
mempu bertahan melewati cobaan, menghadapi badai, dan tetap tumbuh dengan
lambat dan tenang, dan tidak terpengaruh oleh gangguan yang diberikan oleh
pohon yang buruk, baik itu berupa debu, duri maupun yang lainnya.
Renungan tentang
Kematian
Dari waktu ke waktu kematian
terus berjalan. Terkadang ia menggigit dengan satu gigitan dan kemudian
meneruskan perjalanan, atau turun sejenak untuk mengumpulkan beberapa hidangan
yang jatuh dari meja kehidupan. Sementara itu kehidupan juga berlalu, hidup dan
mencurah deras seolah tak merasakan atau melihat wujud dari kematian tersebut.
Suatu
waktu anda mungkin akan menjerit kesakitan, ketika kematian menggigit sebagian
dari tubuh anda. Namun luka itu akan segera sembuh, dan teriakan kesakitan juga
akan segera berubah menjadi keriangan. Dan manusia beserta binatang,
burung-burung, ikan, ulat, serangga, rumput, dan pohon-pohon akan kembali
meramaikan permukaan bumi dengan kehidupan dan makhluk hidup. Sementara itu
kematian tetap mengintai di suatu tempat untuk menggigit dan kemudian berlalu.
Matahari
terbit, lalu terbenam, sementara bumi terus berputar dan kehidupan muncul dari
segala arah. Segala sesuatunya tetap tumbuh. Tumbuh dari segi kuantitas dan
kualitas. Jika kematian bisa melakukan sesuatu niscaya ia akan menghentikan
kehidupan, namun kematian tidak menghentikan kehidupan, karena kematian tetap
berjalan di jalannya sementara kehidupan tetap berlalu di jalannya.
Tawadhu’/ Rendah Hati
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dan tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’
karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”.
[HR. Muslim 4/2001]
“Tawadhu’ atau
rendah hati sangat penting dalam hubungan anda dengan orang lain. Orang yang
sombong – seberapa hebat pun ia mempelajari seni berhubungan dan berinteraksi
dengan orang lain- ia tidak akan pernah berhasil mewujudkan sebuah hubungan
yang hakiki, karena kesombongannya akan tetap menjadi penghalang antara dirinya
dengan orang lain. Kesombongan bagaikan dinding penghalang yang menghalangi
pelakunya dari berhubungan dengan dunia luar. Dan ia juga akan menghalanginya
untuk dapat mencapai Surga dan memasukinya :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan masuk Surga orang yang di hatinya
terdapat sebesar biji zarrah dari kesombongan”.
[HR. Muslim 1/93].
Saudaraku,
renungkanlah tentang orang yang telah kehilangan hubungan dengan Surga dan juga
dengan orang lain, bagaimanakah nilai hidupnya di dalam kehidupan dunia ini?
Jawabannya adalah tidak ada sama sekali.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mencontohkan kepada kita contoh terbaik dalam hal tawadhu’. Imam al-Bukhari
telah meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Bahwasannya seorang budak wanita
dari budak-budak yang ada di Madinah dapat memegang tangan beliau dan
membawanya kemanapun yang dikehendakinya”. [HR. Al-Bukhari 5/2255]
Sumber : Buku "Kemana Kaki Melangkah karya Hamad Shalih Asy Syatiwi"
Alhamdulillah...