Rabu, 20 Februari 2019

Dosa Yang Lebih Besar Dari Dosa Syirik

Bismillah
# Dosa Yang Lebih Besar Dari Dosa Syirik
.
#IndonesiaBertauhid
.
- Yaitu berkata-kata mengenai Allah tanpa ilmu
.
- Karena sumber kesyirikan adalah berkata-kata mengenai Allah tanpa ilmu
.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ada dosa yang lebih besar dari dosa kesyirikan yaitu berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala ,
.
“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan
.
[1] Perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan
.
[2] Perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan)
.
[3] Mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan(mengharamkan)
.
[4] Mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu).“ (Al A’raf: 33)”
.
Mengapa dosanya di atas dosa kesyirikan? Karena dosa syirik sumbernya adalah berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu.
.
Ibnul Qayyim berkata menjelaskan ayat ini,
.
“Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”[I’lamul muwaqqi’in hal. 31]
.
Baca selengkapnya:
https://muslim.or.id/41186-dosa-yang-lebih-besar-dari-dosa-syirik.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen
Broadcast WA muslimafiyah:
089651755537
(Simpan nomornya, Kirim via WA :
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)

Jumat, 08 Februari 2019

Salah Paham : Zuhud itu Harus Miskin

Bismillah

# Salah Paham: Zuhud Itu Harus Miskin

-Mungkin ada yang mengira bahwa zuhud itu harus miskin dan penampilan seperti orang miskin, wajah lemah memelas, tubuh seperti orang lemas disangkanya tawadhu’, maka ini tidak benar

-Apalagi ada yang menyangka bahwa zuhud itu harus miskin dan identik dengan miskin, tentu ini tidak benar

-Pengertian zuhud cukup banyak dijelaskan oleh ulama dan yang paling mewakili adalah penjelasan Imam al-Junaid bahwa orang zuhud itu tidak tergantung hatinya dengan dunia karena tujuanya adalah akhirat. Beliau berkata,

فالزاهد لا يفرح من الدنيا بموجود ولا يأسف منها على مفقود

“Orang yang zuhud tidak bangga karena memiliki dunia dan tidak sedih jika kehilangan dunia.”[1]

-Karenanya orang kaya raya juga bisa zuhud, sebagaimana kisah berikut:

وسئل الإمام أحمد عن الرجل يكون معه ألف دينار وهل يكون زاهدا قال نعم بشرط أن لا يفرح إذا زادت ولا يحزن إذا نقصت

“Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal mendapatkan pertanyaan mengenai seorang yang memiliki uang sebanyak seribu dinar (1 dinar=4,25 gr emas), apakah dia bisa menjadi orang yang zuhud?

Jawaban beliau,

“Bisa dengan dua syarat yaitu:

1.Tidak gembira jika hartanya bertambah dan

2.Tidak sedih jika hartanya berkurang.” [2]

 

-Menjadi kaya bukanlah hal tercela, bahkan jika memang jalan jihadnya adalah melalui kekayaan maka itu yang terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan sahabatnya yang kaya dan mereka gunakan kekayaan untuk membantu meringankn sesama dan membantu jalan Allah

– Akan tetapi perlu diingat bahwa kekayaan itu memang bisa mengantarkan kepada kesombongan, mayoritas penduduk neraka adalah mereka yang sombong, mengumpulkan harta dan sangat bakhil.[3] karenanya “semakin kaya semakin dermawan, bukan semakin naik gaya hidup”

-Pengertian zuhud lainnya adalah:

1. Tidak bergantung hatinya dengan dunia (zuhud dengan dunia), maka akan dicintai Allah

2. Zuhud dengan apa yang ada di sisi manusia (tidak rakus dan tamak) maka akan dicintai dan disenangi oleh manusia.”[4]

-Pengertian lainnya adalah sebagaimana penjelasan Abu Dzar radhiallahu ‘anhu:

1. Yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu

2. Lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.[5]

-Agar tidak memotivasi agar kita bersifat zuhud dan jauh dari ketamakan dunia, kita sadari bahwa hakikat dunia adalah sebagaimana kita mencelup jari di lautan, mengangkatnya maka dunia itu adalah sisa air di jari dibanding lautan sebagai akhiratnya.[6]
Demikian semoga bermanfaat dan kita senantiasa selalu bisa zuhud

 

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

[1] Madarijus-Salikin, 2/10, Darul Kitab Al-Arabiy, syamilah

[2] Uddah ash Shabirin 15/26, Ibnul Qoyyim, Darut turats, syamilah

[3] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ

“Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan.” (Hadits Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114; Al-Hakim, 2/499)

[4] Berdasarkan hadits,

زْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ

“Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan)

[5] Abu Dzar berkata,

الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ

“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.” (HR. Tirmidzi, mauquf)

[6] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR. Muslim no. 2858)

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen
Broadcast WA muslimafiyah:
0895341555542
(Simpan nomornya, Kirim via WA :
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)

Kamis, 07 Februari 2019

Tatkala Anak-Anak Sulit Diatur

Bismillah

# Tatkala Anak-Anak Sulit Diatur

Tatkala anak-anak kau rasa sulit diatur atau sulit dididik
Ingatlah sejenak tingkah masa kecil-mu terhadap orang tua-mu
Bisa jadi engkau pun sulit diatur dan dididik di masa kecil-mu
Sering menyusahkan orang tua
Bisa jadi ini lah salah satu sebabnya … [1]

Segera berbakti sekarang, belum lah terlambat.[2]
Segera telpon orang tua sesering mungkin, terutama ibumu
Sering lah pulang kunjungi mereka
Buat tersenyum sebagaimana dahulu pernah membuat mereka bersedih
Mohon maaf kepada kedua orang tua-mu
Raih lah ridha mereka, Allah pun akan Ridha [3]

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:

[1] Balasan sesuai dengan perbuatan, hal ini cukup banyak dalam berbagai nash.

Allah berfirman

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS:Ar-Rahmaan | Ayat: 60).

Demikian juga balasan dari keburukan, maka keburuan yang serupa

Allah berfirman,

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu” (QS:An-Nisaa | Ayat: 123).

Ibnul Qayyim menyebutkan sebuah kaidah serupa,
وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِتِلْكَ الصَّفَةِ بِعَيْنِهَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap/sifat maka Allah akan menyikapinya dengan sikap tersebut pula di dunia dan di akhirat” (Al-Waabil As-Shayyib hal 49)

Demikian juga sebuah ungkapan,

الجزاء من جنس العمل

“Balasan sesuai dengan perbuatan.”

[2] SIlahkan baca tulisan kami tentang berbakti kepada orang tua

[3] Perhatikan hadits,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِد

ِ “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR. Bukhari dalam adabul Mufrad)

https://muslimafiyah.com/tatkala-anak-anak-sulit-diatur.html

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen
Broadcast WA muslimafiyah:
089651755537
(Simpan nomornya, Kirim via WA :
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)

Selasa, 05 Februari 2019

Anak Penghapal Al-Quran

Bismillah

# Ingin Punya Anak Penghapal Al-Quran
.
“Terlihat sangat bangga orang tua yang anaknya sukses ketika wisuda, apalagi sang anak mendapatkan nilai tertinggi. Ternyata ada yang lebih membanggakan lagi, yaitu di hari kiamat, orang tua dinaikkan derajatnya dan akan dipakaikan mahkota kemuliaan dari cahaya karena anaknya menghapalkan Al-Quran”
.
Kita sangat ingin, bercita-cita dan bersungguh-sungguh menghapalkan Al-Quran. Terlalu banyak keutamaan bagi mereka yang menghapal dan mempelajari Al-Quran, derajat kita di surga dinaikkan sesuai dengan hapalan Al-Quran kita

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

 “Akan dikatakan kepada shahibul qur’an penghapal : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir (seberapa banyak) yang engkau hapal” (HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Tidak hanya kita yang berusaha menghapalkan Al-Quran, kita usahakan juga anak-anak kita menghapalkan Al-Quran. Kita sangat berharap ada satu saja di antara anak kita yang menghapal Al-Quran, apabila tidak bisa semua bisa menghapalkan Al-Quran. Tentu kita berdoa dengan harapan yang tinggi yaitu agar semua anak kita bisa menghapalkan Al-Quran.

Keutamaan apabila anak kita menghapalkan Al-Quran adalah akan meningkatkan derajat orang tuanya di surga, kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya sebagai bentuk kemuliaan karena telah mendidik anak yang menghapalkan Al-Quran.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

“Barangsiapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani)

Semoga anak-anak kita kelak menghapalkan Al-Quran, kegiatan mulia ini tidak akan menghambat sedikitpun untuk kegiatan lainnya. Banyak pedagang yang hapal Al-Quran, tentara menghapalkan Al-Quran, dokter menghapalkan Al-Quran dan pejabat yang menghapalkan Al-Quran.

Allah akan menaikkan derajat orang yang menghapalkan Al-Quran, setahu kami tidak ada penghapal Al-Quran yang hidupnya terlantar (mengenaskan) selama hidup di dunia ini, bahkan kedudukan mereka mulia dan diangkat oleh Allah di masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.” (HR. Ahmad 237 & Muslim 1934)

Semoga kita bisa menghapalkan Al-Quran dan memilikianak yang menghapalkan Al-Quran. Aamiin.

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

https://muslimafiyah.com/ingin-punya-anak-penghapal-al-quran.html

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen
Broadcast WA muslimafiyah:
089651755537
(Simpan nomornya, Kirim via WA :
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)

Sabtu, 02 Februari 2019

Doa Sebelum Ketika Sesudah Hujan dan Angin Kencang

Bismillah

*Mengingatkan kembali yaa...*

*🌧⛈ Ketika Hujan ☔⚡*

*🌫1. Doa Ketika mendung dan langit diselimuti awan hitam*

*اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا فِيْه*

```Allohumma innii a'uudzu bika min syarri maa fiihi```

*_"Ya Allah ! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini"_*
```(HR. Bukhari)```

*💧2. Do'a Ketika Hujan Pertama Kali Turun*

*اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعا*ً

```Allohumma shoyyiban nafi’an```

*_"Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat"_*
```(HR. Bukhari)```

*☔3. Do'a Ketika Hujan Turun Dengan Sangat Lebat*

*اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ*

```Allohumma hawaalainaa wa laa ’alainaa. Allohumma ’alal aakaami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthuunil audiyati, wa manaabitisy syajari```

_*"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, namun jangan untuk menghancurkan dan merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan"*_.
```(HR. Bukhari)```

*🌪4. Do'a Ketika Angin Bertiup Kencang*

*اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أرسلت بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أرسلت بِهِ.*

```Allohumma innii as aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bihi, wa a'uudzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bihi```

*_“Ya Allah ! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), dan kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan dari tujuan angin itu dihembuskan. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan angin ini, dan kejahatan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan dari tujuan angin itu dihembuskan"_*
```(HR. Bukhari dan Muslim)```

*⚡5. Ketika Mendengar Petir*

*سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِه*

```Subhaanalladzi yusabbihur ro'du bihamdihii wal malaaikatu min khiifatihi```

*_“Maha Suci Allah yang halilintar/petir bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepada-Nya"_*

*☁6. Ketika Hujan Berhenti*

*مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ*

```Muthirnaa bi fadhlillaahi wa rohmatihi```

*_“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah"_*.
```(Muttafaq 'alaih)```

Istidraj: Kebahagiaan Yang Lebih Semu Lagi

Bismillah

# Istidraj: Kebahagiaan Yang Lebih Semu Lagi
.
"Bisnisnya lancar dan omset besar tapi melalaikan shalat"
.
"Karirnya naik terus dan orang-orang hormat tapi tidak memakai jilbab"
.
Ternyata ada yang harus kita waspadai lagi. Yaitu ia merasa bahagia di dunia padahal itu adalah hukuman baginya dari Allah Ta’ala, karena ia bahagia tidak diatas landasan Agama Islam yang benar.
.
Allah biarkan ia bahagia sementara di dunia, Allah biarkan ia merasa akan selamat dari ancaman Allah di akhirat kelak, Allah tidak peduli kepadanya.
.
Itulah istidraj sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
.
“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”[1]
.
Sering-sering muhasabah antara nikmat dan istidraj
.
Dan sudah sepatutnya kita berilmu, yaitu bagaimana membedakan antara nikmat dan istidraj dengan sering-sering bermuhasabah.
.
Mengenai ayat,
.
“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.”  [Al-A’raf: 99]
.
Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,
.
“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka  tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”[2]
.
Baca selengkapnya ا:

http://muslimafiyah.com/istidraj-kebahagiaan-yang-lebih-semu-lagi.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen
Broadcast WA muslimafiyah:
0895341555542
(Simpan nomornya, Kirim via WA :
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)

Jumat, 01 Februari 2019

Penjelasan Perintah Membunuh Cicak/Tokek

Bismillah

# Penjelasan Mengenai Perintah Membunuh Cicak/Tokek
.
-Dibunuh karena ada perintahnya, salah satu alasannya adalah karena cicak/tokek yang meniup api yang membakar Nabi Ibrahim
.
-Tidak sampai memusnahkan, karena tidak diperintah membunuhnya di seluruh permukaan bumi, jadi tidak benar alasan menolak hadits karena bisa memusnahkan spesies
.
-Hendaknya tidak pakai/mengedepankan erasaan dahulu dalam menerima hadits, tapi lihat penjelasan ulama

_____________

Tidak sedikit yang jijik dengan hewan kecil satu ini, ada juga yang bukan sekedar jijik tapi sampai ketakutan dengann hewan yang satu ini. Tahukah anda bahwa tarnyata ada sunnah dan perintah agar membunuh hewan ini.

Memang hewan ini ringan dan cepat bergerak tetapi bentuk dan struktur kulitnya menjijikan bagi sebagian orang sesuai dengan pengertiannya secara bahasa.

Dalam kitab al-Qamus Al-Muhith dijelaskan,

الوَزَغَةُ ، مُحرَّكةً‏:‏ سامُّ ابْرَصَ ، سُمِّيَتْ بها لِخِفَّتِها وسُرْعَةِ حَرَكَتِها،

“Cicak, (spesies lainnya adalah tokek) ,  dinamakan demikian karena ringannya dan cepat gerakannya”[1]

 

Perintah agar membunuh cicak

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ النبيَّ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغَ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا

“Sesungguhnya Nabi shallallahu’ala­ihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak, dan beliau menyebutnya sebagai fuwaisiq (binatang kecil fasiq).”[2]

Bahkan Imam an-Nawawirahimahullah mengklaim adanya ijma’ ulama, beliau berkata,

واتفقوا على أن الوزغ من الحشرات المؤذيات

“Para ulama sepakat bahwa cicak termasuk hewan kecil yang mengganggu.”[3]

 

Dan ini contohkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anhayang juga ingin membunuh cicak dengan tombak.

Dari saibah Maula Fakih bin Al-Mughirah ia menemui ‘Aisyah dan melihat beliau di rumahnya ada tombak yang diletakkan. Kemudia ia berkata:

يا أم المؤمنين ما تصنعون بهذا الرمح ؟ قالت هذا لهذه الأوزاغ نقتلهن به فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثنا أن إبراهيم صلى الله عليه وسلم حين ألقى في النار لم تكن في الأرض دابة إلا تطفىء النار عنه غير الوزغ فإنه كان ينفخ عليه فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقتله ..

“Wahai Ummul Mukminin apa yang engkau perbuat dengan tombak tersebut?”

Beliau menjawab,

“Ini untuk para cicak,kami membunuhnya karena Rasulullah shallallahu’ala­ihi wasallam menceritkan kepada kami bahwa tatkala nabi Ibrahim dilemparkan ke api semua hewan melata dimuka bumi berusaha mematikan api kecuali cicak, ia ikut meniupkan api maka Rasulullah shallallahu’ala­ihi wasallam memerintahkan kita agar membunuh cicak.”[4]

 

Semakin cepat dibunuh semakin baik

Bahkan semakin cepat dibunuh semakin baik. Sebagaimana hadits membunuh sekali pukulan/serangan lebih banyak pahalanya dari pada dua kali.

Rasulullah shallallahu’ala­ihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ“

“Barangsiapa yang membunuh cicakpada pukulan pertama maka ditulis baginya seratus kebaikan, jika dia membunuhnya pada pukulan kedua maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu, dan bila pada pukulan ketiga maka dia mendapatkan pahala yang kurang dari itu.”[5]

Imam an-Nawawi rahimahullah

وأما سبب تكثير الثواب في قتله بأول ضربة ثم ما يليها فالمقصود به الحث على المبادرة بقتله ، والاعتناء به ، وتحريض قاتله على أن يقتله بأول ضربة ، فإنه إذا أراد أن يضربه ضربات ربما انفلت وفات قتله

“Adapun sebab banyaknya pahala pada pembunuhan cicak pada pukulan/serangan pertama makamaksudnya adalah motivasi agar bersegera membunuhnya ,perhatian (serius) membunuhnya serta memberikan semangat agar membunuh sekali pukulan saja. Jika dipukul dengan beberapa pukulan bisa jadi cicak terhindar dari kematian (bisa mengelak dan bersembunyi dengan cepat, pent).”[6]

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

كل ذلك تحريضا للمسلمين على المبادرة لقتله ، … ولذلك ينبغي للمسلم ان يتتبع الأوزاغ في بيته ، في السوق ، في المسجد ويقتلها

“Semuanya ini adalah motivasi bagi kaum muslimin agar bersegara membunuh cicak… oleh karena itu selayaknya bagi muslim agar mencari-cari cicak di rumahnya, di pasar atau di masjid kemudian membunuhnya.”[7]

 

Dua alasan kenapa diperintahkan dibunuh

1.karena cicak ikut meniup api yang membakar nabi Ibrahim

cicak juga ikut meniup api yang digunakan membakar nabi Ibrahim‘alaihissalam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام

“Dahulu cicak turut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihissalam.” [8]

syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

حديث قتل الوزغ : ظاهر الوجوب ، أي يجب قتل الوزغ لأنه كان ينفخ النار على إبراهيم عليه السلام

“Hadits tentang membunuh cicak, dzahirnya wajib yaitu wajib membunuh cicak karena ikut meniup api yang membakar nabi Ibrahim ‘alaihissalam.”[9]

 

2. Selain karena cicak adalah hewan penganggu (sebagaimana disebutkan oleh “binatang kecil yang fasik)

Imam An-Nawawi rahimahullahberkata,

وأما تسميته فويسقاً فنظيره الفواسق الخمس التي تقتل في الحل والحرم، وأصل الفسق الخروج “.

“adapun penamaan cicak dengan “hewan fasik  kecil” maka semisal dengan lima hewan fasik (yang sering mengganggu) yang diperintahkan dibunuh, baik di tanah halal maupun haram (mekkah dan madinah), makna asal fasik dalah keluar (dari kepatuhan/ tidak jinak).”[10]

 

Cicak atau tokek yang disuruh bunuh?

Perndapat terkuat adalah keduanya diperintahkan dibunuh.

Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata,

هي من الحشرات المؤذيات وجمعه أوزاغ وسام أبرص جنس منه وهو كباره

“ Cicak itu termasuk binatang melata yang mengganggu manusia, dan tokek adalah salah satu spesies darinya yang berbadan lebih besar.”[1]

 

[1] Nailul Authar 8/142, Darul Hadits, Mesir, cet. I, 1413 H, syamilah

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Pogung Lor, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

[1] Al-Qamus al-Muhith hal. 790, Mu’assasah Risalah, 1426, cet. Ke-8, Beirut, syamilah

[2] HR Muslim: 2238

[3] Syarh Shahih Muslim, 14:236

[4] Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah

[5] HR Muslim: 2240

[6] Syarh Muslim 14/236

[7]  Syarh Riyadhus shalihin 4/536

[8] HR al-Bukhari, Muslim

[9] Ta’liq syaikh Bin Baz shahih Bukhari, Kitab Al-Anbiya

[10] Syarh shahih Muslim lin nawawi

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen
Broadcast WA muslimafiyah:
089651755537
(Simpan nomornya, Kirim via WA :
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)