Kamis, 30 Juni 2011

IMAM MUSLIM (Ilmu Hadits)

Bismillah

Nama lenkap beliau ialah Imam Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Dia dilahirkn di Naisabur tahun 206 H. Sebagaimana dikatakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya “Ulama’ul Amsear. Imam Muslim adalah penulis kitab shahih dan kitab ilmu hadits. Dia adalah ulama terkemuka yang namanya dikenal sampai kini.

KEHIDUPAN DAN PENGEMBARAANNYA
Kehidupan Imam Muslim penuh dengan kegiatan mulia. Beliau merantau ke berbagai negeri untuk mencari hadits. Dia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dia belajar hadits sejak masih kecil, yakni mulai tahun 218 H. Dalam perjalanannya Muslim bertemu dan berguru pada ulama hadits.
Di Khurasan dia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray dia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan. Di Irak dia belajar kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz berguru kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’ab. Di Mesir belajar kepada ‘Amar bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan berguru kepada ulama hadits lainnya.
Imam Muslim berulangkali pergi ke Bagdad untuk belajar hadits dan kunjungannya yang terakhir tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering berguru kepadanya. Sebab dia mengetahui kelebihan ilmu Imam Bukhari. Ketika terjadi ketegangan antara Bukhari dengan az-Zuhali dia memihak Bukhari. Sehingga hubungannya dengan az-Zuhali menjadi putus. Dalam litab shaihnya maupun kitab lainnya Muslim tidak memasukan hadits yang di terima dari az-Zuhali, meskipun dia adalah guru Muslim. Dan dia pun tidak memasukkan hadits yang diterima dari Bukhari padahal dia juga sebagai gurunya. Bagi Muslim lebih baik tidak memasukkan hadits yang diterimanya dari dua gurunya itu. Tetapi dia tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

WAFATNYA
Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Muslim wafat pada hari Ahad sore dan dimakamkan di kampong Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H dalam usia 55 tahun selama hidupnya, Muslim menulis beberapa kitab yang sangat bermanfaat.

PARA GURUNYA
Imam Muslim mempunyai guru hadits sangat banyak sekali, diantaranya adalah : Usman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaibah bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab’Amar ab-Naqid, Muhammad bin Sa’id al-Aili, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.

 
MURID YANG MERIWAYATKAN HADITSNYA
Banyak para ulama yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim, bahkan di antaranya terdapat ulama besar yang sebaya dengan dia. Di antaranya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Sa’id, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi isa at-Tarmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Syahih Muslim. Dan masih banyak lagi muridnya yang lain.

PUJIAN PARA ULAMA
                Apabila Imam Bukhari sebagai ahli hadits nomor satu, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan karena Muslim adalah salah satu dari muridnya Al-Khatib al-Bagdadi berkata, “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya.

KITAB TULISAN IMAM MUSLIM
                Imam Muslim mempunyai kitab hasil tulisannya yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya: Al-Jamius Syahih, Al-Musnadul Kabir Alar Rijal, Kitab al-Asma al Kun, Kitab al-allal, Kitab al-quran, Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal, al-Intifa bi Uhubis Siba’. Kitab al-Muhadramain, kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahidin. Kitab Auladus Sahabah, Kitab Auhamul Muhadisin. Kitabnya yang paling terkenal sampai kini ialah Al-Jamius Syahih atau Syahih Muslim.

KITAB SHAHIH MUSLIM 
Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfaat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al Jami' as-Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitabyang paling shahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.
Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedemikian rupa maka lahirlah Kitab Sahihnya.
Bukti kongkrit mengenal keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah di dengarnya. Di ceritakan, bahwa ia pernah berkata : "Aku susun kitab Sahih ini yang di saring dari 300.000 hadits".
Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : "Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.

Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya, "Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits.
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya : "Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka haya berputar-putar di sekitar kitab musad ini.
Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : "Tidaklah aku mencantumkan suatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan, juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula".
Imam Muslim di dalam penulisan Shahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Shahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.