Minggu, 13 Februari 2011

Saat Ajal Menjelang

Katakanlah: "Sesumgguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS. Al-jumuah [62]:8)


Di antara manusia ada yang tidak mengingat kematian kecuali sedikit saja. Apabila ia mengingatnya, maka ia akan membencinya karena ketekunan pada dunianya. Mengingat kematian membuatnya semakin jauh dari Allah swt. Adapula di antara manusia yang menghadapkan wajahnya kepada Allah swt. Ia bertaubat dari apa yang tidak sepatutnya. Maka mengingat kematian membuatnya semakin takut dan bersiap sedia, berbekal, dan memenuhi kesempurnaan taubat. Maka orang ini tidak membenci kematian karena ketekunannya pada dunia. Ia hanya membencinya karena sedikit bekalnya dan tidak ada kesiapannya. Kebencian ini bukanlah kebencian untuk bertemu Allah swt bahkan itu tidak tercela. Ia menginginkan kehidupan untuk persiapan dan perbekalan. Kalau perbekalannya sudah cukup, maka ia menyukai kematian. Maka kematian mengantarkannya pada pertemuan dengan Allah swt dan kedekatan-Nya pada yang mulia.

Adapun seorang arif senantiasa mengingat kematian, karena hal itu merupakan waktu yang telah dijanjikan untuk bertemu dengan kekasih. Kekasih tidak akan pernah melupakan janji kekasihnya. Yang seperti ini adalah hamba yang menganggap lambat datangnya kematian. 

Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah ra. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang dalam miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih akui sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu"

Derajat paling tinggi adalah menyerahkan urusannya kepada Allah swt. Tidak memilih mati atau hidup untuk dirinya sendiri. Kecintaan padanya berakhir pada tingkat penyerahan diri. Ia tidak memilih apapun untuk dirinya sendiri kecuali apa yang dipilihkan oleh kekasihnya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya'-nya menjelaskan tentang keutamaan mengingat kematian. Beliau mengutip beberapa hadits Rasulullah saw, yang menjelaskan hal tersebut, di antaranya Rasulullah bersabda : "Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan". (HR. Turmudzi).
Pemutus kelezatan adalah kematian.


Adapula gambaran Beliau saw, tentang ingat mati, "Seandainya bintang-bintang mengetahui dari hal kematian dari apa yang kamu ketahui, maka kamu tidak akan memakan minyak samin darinya". (HR. Baihaqi)

 'Aisyah ra. Pernah bertanya pada suaminya, Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, apakah seseorang dibangkitkan bersama syuhada?" Rasulullah saw menjawab, "Benar, (yaitu) orang yang mengingat kematian dua puluh kali dalam sehari".
Berapa kali kita mengingatkan kematian dalam sehari, seminggu, sebulan, atau setahun? Rasulullah saw, bahkan menyatakan kematian adalah hadiah untuk kita, sebagaimana sabda beliau. "Hadiah bagi orang mukmin adalah kematian". (HR. Ibnu Abid Dunya). 
Kematian merupakan hadiah, dan ia nasihat menuju kebaikan, seperti sabda Beliau, "Cukuplah kematian sebagai penasihat". (HR. Tabrani)

Pernah suatu ketika, Rasulullah saw, keluar menuju masjid, tiba-tiba Beliau mendapati suatu kaum yang sedang mengobrol dan tertawa, maka Beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis". (HR. Ibnu Abid Dunya). Ya, karena yang terbayang semua keindahan dunia akan segera sirna, dan ketakutan akan balasan dari keburukan kita terbayang segera.


kita harus senantiasa mengingat bahwa kematian merupakan suatu hal yang sangat menakutkan. Al-Ghazali menasihatkan bahwa banyak merenungkannya menyebabkan keinginan menjauhi dunia, sedikit bersenang-senang dan bersiap-siap menyambutnya. Benar, jika manusia yang hatinya disibukkan, maka tidak akan tampak pengaruhnya. Jalan ke arah itu adalah mengosongkan hatinya dari selainnya, dan memikirkannya sebagaimana ia memikirkan perjalanannya yang dimaksudkannya di daratan dan lautan. Sehingga yang berkuasa dalam hatinya adalah tafakur dalam kematian dan bersiap-siap menghadapinya, bukan yang lain.

Kematian adalah pintu gerbang menuju surga, jika kita mendapatkan karunia itu, atau neraka. Maka mari bersiap-siap memasuki salah satu di antara keduanya. Rasulullah bersabda, "Neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disenangi, dan surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidakdisenangi". (HR. Bukhari)