Bismillah
Kaya, haruskah? Mana yang lebih penting daripada akhlak?
Jumat kemarin, jadwal saya lumayan padat. Pagi, mengisi buat Askrida di Aston Sentul. Malam, mengisi buat UIN di Novotel Lampung. Di sela-sela itu, walaupun sebentar, saya berusaha menemui dan menyapa mitra-mitra saya.
Sebagian dari mereka tengah berjuang keluar dari utang. Mereka pun giat belajar sama tokoh-tokoh yang sudah terbukti sukses dan kaya. Jujur saja, kesuksesan dan kekayaan memang sangat menginapirasi. Tapi, saya merasa perlu mengingatkan satu hal. Apa itu?
Begini. Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan (impressed). Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."
Kalau belum kaya, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Kurang-lebih begitu. Dan saya harap Anda setuju. Menjadi kaya itu perlu proses. Tapi, menjadi manfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Seketika.
Dan ingatlah pesan WS Rendra, "Hidup itu seperti uap. Sebentar saja kelihatannya, lalu lenyap!" Ya, hidup itu singkat. Pada akhirnya, mari sama-sama kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat dan berakhlak. Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Aamiin.
Kalau berkenan, mohon doanya ya untuk saya dan keluarga saya.
Lanjut artikelnya....
Bismillah
Sebagian besar penyakit fisik berasal dari pikiran kita dan perasaan kita. Dendam, salah satunya.
Penelitian dari Emory University menemukan bahwa orang yang memiliki perasaan dendam cenderung memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi, dan lebih mungkin meninggal karena penyakit jantung ketimbang orang yang lebih pemaaf.
Hal ini disebabkan adanya protein C-reaktif yang terkait langsung dengan penyakit jantung dan stroke. Ketika menyimpan dendam, protein C-reaktif tersebut meningkat dalam aliran darah dan itulah yang memungkinkan timbulnya penyakit.
Selain itu, perasaan dendam yang tak berkesudahan juga dapat berdampak negatif pada metabolisme, respons imun, dan fungsi organ tubuh. Benar-benar buruk dampaknya. Juga dapat menyebabkan depresi dan kecemasan.
Di seminar-seminar sering saya sampaikan, "Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan bisa merusak kesehatan. Juga merusak amal. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam."
Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Dan berbagai penelitian sejak lama menunjukkan begitu.
Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.
Pada akhirnya, hindari dendam. Daripada mendendam, cenderunglah untuk memaafkan. Dengan memaafkan, insya Allah rezeki kita dan kesehatan kita akan jauh lebih baik. Praktek ya. Semoga berkah berlimpah.