Bismillah
Haram hukumnya seorang muslim menjual segala bentuk peralatan atau
sarana ibadah bagi penganut agama lain. Misal, pohon cemara untuk
dijadikan pohon Natal bagi kaum Nashrani; buah-buahan, bunga, makanan,
atau minuman yang akan dijadikan sesajen di pura; hio atau dupa untuk
untuk upacara keagamaan di klenteng; dan banyak kasus-kasus lain yang
serupa, termasuk kasus yang ditanyakan, yaitu anyaman bambu untuk tempat
sesajen bagi penganut agama Hindu.
Dalil keharamannya sbb; Pertama, keumuman ayat yang melarang muslim
untuk memberikan bantuan (i’aanah) kepada pihak lain dalam
perkara-perkara dosa dan pelanggaran syariah. Firman Allah SWT :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
”Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran.” (QS Al Maaidah [5] : 2). (Ramadhan Hafizh ‘Abdurrahman,
Buhuts Muqaranah fi Al Syariah Al Islamiyyah ‘An Al Buyuu’ Adh Dhaarrah,
Kairo : Darus Salam, 2006, hlm. 235).
Kedua, ada hadits shahih yang melarang jual beli barang-barang yang
dihormati/disakralkan oleh non muslim, seperti berhala dan salib.
Rasulullah SAW bersabda pada waktu penaklukan Makkah :
إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام
”Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai,
babi, dan berhala-berhala (al ashnaam).” (innallaha harrama bai’a al
khamr wal maytah wal khinziir wal ashnaam) (HR Bukhari, no 2121; Muslim
no 1581). Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menjelaskan hadits tersebut
dengan berkata :
ويلتحق بها في الحكم الصلبان التي تعظمها النصارى
”Dihukumi sama dengan berhala adalah salib yang dihormati/disakralkan
oleh orang-orang Nashrani.” (wa yultahaqu bihaa fi al hukm al shalbaan
allatiy tu’azhzhimuha an nashaara). (Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Fathul
Bari, Juz IV hlm. 443).
Dari penjelasan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani tersebut, larangan yang
terdapat dalam hadits tersebut tak hanya menjual belikan berhala
(patung), namun dapat diperluas secara umum pada setiap barang yang
dihormati atau disakralkan non muslim, termasuk salib dan pohon Natal
serta segala sarana ibadah lainnya bagi non muslim.
Ketiga, terdapat kaidah fiqih yang mengharamkan jual beli sarana maksiat, yang berbunyi :
كل بيع أعان على معصية محرمة
Kullu bai’in a’aana ‘ala ma’shiyatin muharramun (setiap-tiap jual
beli yang membantu terjadinya suatu kemaksiatan, hukumnya haram). (Imam
Syaukani, Nailul Authar, Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000, hlm. 1035; Walid
bin Rasyid As Sa’idani, Qawa’id Al Buyuu’ wa Fara`id Al Furuu’, hlm.
111).
Berdasarkan tiga dalil di atas, haram hukumnya seorang muslim menjual
segala macam peralatan atau sarana ibadah bagi penganut agama lain.
Perlu kami tambahkan, selain menjualbelikan diharamkan juga seorang
muslim memproduksi peralatan atau sarana ibadah agama lain. Kaidah fiqih
dalam masalah ini menetapkan :
الصناعة تأخذ حكم ما تنتجه
Ash shinaa’ah ta`khudzu hukma maa tunjituhu (hukum pembuatan barang
[manufaktur] bergantung pada hukum produk barang yang dihasilkan).
(Abdurrahman Al Maliki, As Siyasah Al Iqtishadiyyah Al Mutsla, hlm. 30).
Kaidah ini menjelaskan boleh tidaknya aktivitas produksi barang,
bergantung pada produk yang akan dihasilkan. Sebagai contoh, proses
mengolah buah anggur menjadi produk minuman juice anggur, hukumnya
boleh, tetapi proses mengolah buah anggur menjadi produk wine (khamr)
hukumnya haram. Maka berdasarkan kaidah fiqih tersebut, haram hukumnya
seorang muslim memproduksi peralatan atau sarana ibadah bagi agama lain.
Wallahu a’lam. [KH. M. Shiddiq Al Jawi]
Sumber : https://konsultasi.wordpress.com/2017/01/19/muslim-menjual-peralatan-ibadah-bagi-agama-lain-bolehkah/