Definisi
Jul beli (Ba’i) dari kata al-ba’a (امباع ) = depa, jarak antara dua telapak tangan ketika dibentangkan.
Kaitan: karena dalam jual beli, orang mengulurkan depanya untuk mengambil dan menerima barang.
Hukum Asal
Hukum asal jual beli adalah mubah.
Karena itu, tidak dihukumi terlarang kecuali jika ada dalil.
Allah berfirman,
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (al-Baqarah: 275)
Jul beli (Ba’i) dari kata al-ba’a (امباع ) = depa, jarak antara dua telapak tangan ketika dibentangkan.
Kaitan: karena dalam jual beli, orang mengulurkan depanya untuk mengambil dan menerima barang.
Hukum Asal
Hukum asal jual beli adalah mubah.
Karena itu, tidak dihukumi terlarang kecuali jika ada dalil.
Allah berfirman,
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (al-Baqarah: 275)
Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
Dua orang yang saling jual beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. (Muttafaq alaih)
Dua orang yang saling jual beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. (Muttafaq alaih)
Pembagian Jual Beli
Pertama, dilihat dari alat tukarnya,
1. Tukar menukar uang dengan barang
2. Tukar menukar barang dengan barang (barter). Disebut bai’ muqayadhah
3. Tukar menukar uang dengan uang. Disebut as-Sharf.
Pertama, dilihat dari alat tukarnya,
1. Tukar menukar uang dengan barang
2. Tukar menukar barang dengan barang (barter). Disebut bai’ muqayadhah
3. Tukar menukar uang dengan uang. Disebut as-Sharf.
Kedua, dilihat dari waktu penyerahan
1. Sama-sama tunai. Uang tunai, barang tunai
2. Uang tunai, barang tertunda. jual beli salam
3. Uang tertunda, barang tunai. jual beli kredit (taqsith)
4. Uang tertunda, barang tertunda jual beli utang dengan utang (Bai’ kali’ bil kali’)
Tiga pertama hukumnya halal, dan yang terakhir hukumnya haram.
1. Sama-sama tunai. Uang tunai, barang tunai
2. Uang tunai, barang tertunda. jual beli salam
3. Uang tertunda, barang tunai. jual beli kredit (taqsith)
4. Uang tertunda, barang tertunda jual beli utang dengan utang (Bai’ kali’ bil kali’)
Tiga pertama hukumnya halal, dan yang terakhir hukumnya haram.
Ketiga, dilihat dari cara menentukan harga
1. Bai’ Musawamah: penjual tidak menyebutkan harga modal. Tapi dia langsung tetapkan harga jual
2. Bai’ al-Amanah: penjual menyebutkan harga modal. Ada 3
a. Murabahah: penjual menetapkan keuntungan
b. Wadhi’ah: dijual lebih murah dari pada harga modal
c. tauliyah : dijual seharga yang sama dengan harga modal
1. Bai’ Musawamah: penjual tidak menyebutkan harga modal. Tapi dia langsung tetapkan harga jual
2. Bai’ al-Amanah: penjual menyebutkan harga modal. Ada 3
a. Murabahah: penjual menetapkan keuntungan
b. Wadhi’ah: dijual lebih murah dari pada harga modal
c. tauliyah : dijual seharga yang sama dengan harga modal
Rukun Jual Beli
1. al-Aqidan: Dua pihak yang melakukan akad: penjual dan pembeli
2. al-Ma’qud ‘alaih: Alat akad: uang dan barang
3. Shighat akad: ucapan atau isyarat dari penjual dan pembeli yang menunjukkan keinginan mereka untuk melakukan tanpa paksaan.
Shighat Akad ada 2:
1. Shighat secara lisan: ijab qabul.
2. Shighat dengan perbuatan atau isyarat. Disebut Bai’ Mu’athah.
1. al-Aqidan: Dua pihak yang melakukan akad: penjual dan pembeli
2. al-Ma’qud ‘alaih: Alat akad: uang dan barang
3. Shighat akad: ucapan atau isyarat dari penjual dan pembeli yang menunjukkan keinginan mereka untuk melakukan tanpa paksaan.
Shighat Akad ada 2:
1. Shighat secara lisan: ijab qabul.
2. Shighat dengan perbuatan atau isyarat. Disebut Bai’ Mu’athah.
Oleh : Ustadz Ammi Nur Baits